Masa
Kecil yang Menyeramkan
Cerita ini terjadi saat
umurku 14 tahun. Saat itu aku bersekolah di SMPIT Al-Furqon. Seperti anak SMP
pada umumnya,setelah waktu sekolah selesai aku langsung pergi bermain. Terkadang aku bermain futsal atau bermain permainan lain di sekolah. Namun, tak jarang juga aku bermain di rumah bersama teman yang satu komplek dengan rumahku.
Pada waktu itu, sepulang sekolah aku dijemput oleh tanteku menggunakan motor. Aku dulu sangat ingin pergi ke sekolah membawa motor sendiri namun karena belum dibolehkan orang tuaku dan juga karena belum ada sim akhirnya aku selalu dijemput oleh tanteku. Sesampainya di rumah aku langsung mengganti langsung mengganti baju dan siap untuk bermain. Terkadang aku makan dulu sebelum bermain agar energi ku kembali kuat. Setelah siap, aku langsung meminta izin kepada orang tuaku untuk pergi ke bermain. Di komplek tempat tinggalku tidak ada banyak tanah yang luas sehingga tempat yang cocok untuk kami bermain hanyalah lapangan yang berada di halaman masjid. Yang bermain disitu tidak hanya anak anak dari komplek kami saja tetapi ada juga teman kami dari luar komplek yang ikut bermain bersama kami. Disitu kami bermain banyak hal seperti bermain bola,lempar sandal,petak umpet dan masih banyak permainan lainnya. Di hari itu kami semua memutuskan bermain polisi bandit atau zombie-zombian atau juga disebut kejar-kejaran yang memang merupakan salah satu permainan yang paling seru. Namun siapa sangka Pada hari itu juga kejadian yang tak terlupakan itu terjadi.
Pada waktu itu, sepulang sekolah aku dijemput oleh tanteku menggunakan motor. Aku dulu sangat ingin pergi ke sekolah membawa motor sendiri namun karena belum dibolehkan orang tuaku dan juga karena belum ada sim akhirnya aku selalu dijemput oleh tanteku. Sesampainya di rumah aku langsung mengganti langsung mengganti baju dan siap untuk bermain. Terkadang aku makan dulu sebelum bermain agar energi ku kembali kuat. Setelah siap, aku langsung meminta izin kepada orang tuaku untuk pergi ke bermain. Di komplek tempat tinggalku tidak ada banyak tanah yang luas sehingga tempat yang cocok untuk kami bermain hanyalah lapangan yang berada di halaman masjid. Yang bermain disitu tidak hanya anak anak dari komplek kami saja tetapi ada juga teman kami dari luar komplek yang ikut bermain bersama kami. Disitu kami bermain banyak hal seperti bermain bola,lempar sandal,petak umpet dan masih banyak permainan lainnya. Di hari itu kami semua memutuskan bermain polisi bandit atau zombie-zombian atau juga disebut kejar-kejaran yang memang merupakan salah satu permainan yang paling seru. Namun siapa sangka Pada hari itu juga kejadian yang tak terlupakan itu terjadi.
Saat itu aku dalam posisi dikejar oleh temanku.
Namun karena tentu saja tidak ingin ditangkap aku dengan refleks melompat ke
bawah. Pada saat itu posisiku sedang berada di tempat yang cukup tinggi
sehingga aku bisa melompat ke bawah untuk menghindari temanku. Namun nahasnya
ketika aku melompat ada temanku yang sedang lari dibawahku alhasil dia pun
tertimpa oleh badan besarku. Temanku itu langsung mengalami sesak napas dan
terdapat luka di bagian dagunya karena bergesakan dengan aspal yang ada di
halaman masjid. Ketika melihat hal itu teman-temanku yang lain langsung
membawanya ke rumahnya. Aku yang bingung harus bagaimana pun pulang kerumah. Sesampai
dirumah aku memberi tau ibuku mengenai hal yang terjadi tadi. Setelah mendengar
hal itu ibuku langsung pergi ke rumah temanku tadi untuk membawanya ke rumah
sakit.
Sepulang dari rumah sakit ibuku bercerita bahwa temanku tadi mendapat jahitan di dagunya. Mendengar hal itu aku merasa sangat bersalah dan malu untuk bertemu dengan temanku itu padahal kami adalah teman baik. Kami sering bermain bersama. Aku pernah beberapa kali bermain di rumahnya dan dia pun juga pernah beberapa kali bermain di rumahku. Namun karena kejadian ini kami menjadi jarang bermain bersama lagi karen aku berpikir dia akan membenciku.bahkan aku keluar rumah hanya pada waktu pergi solat ke masjid dan sekolah saja. Beberapa kali juga aku menghindar ketika bertemu dengan ayah atau ibunya karena aku takut mereka akan marah padaku karena telah melukai anaknya.
Di dalam hati kecilku aku ingin sekali bermain dengan mereka lagi. Aku sering mengintip mereka berjalan menuju ke halaman masjid untuk bermain. Seiring berjalannya waktu aku mulai sering keluar rumah dan saat itulah kami bertemu. Aku yang sempat takut bertemu dengannya akhirnya memberanikan diri. Tak disangka ketika kami bertemu dia mengajakku untuk bermain bersama lagi. Aku yang mendengar hal itu pun terkejut karena kukira dia tidak mau lagi bermain denganku. Disisi lain aku sangat senang ketika mendengar hal itu. Setelah itu kami pun bermain bersama lagi.
Sepulang dari rumah sakit ibuku bercerita bahwa temanku tadi mendapat jahitan di dagunya. Mendengar hal itu aku merasa sangat bersalah dan malu untuk bertemu dengan temanku itu padahal kami adalah teman baik. Kami sering bermain bersama. Aku pernah beberapa kali bermain di rumahnya dan dia pun juga pernah beberapa kali bermain di rumahku. Namun karena kejadian ini kami menjadi jarang bermain bersama lagi karen aku berpikir dia akan membenciku.bahkan aku keluar rumah hanya pada waktu pergi solat ke masjid dan sekolah saja. Beberapa kali juga aku menghindar ketika bertemu dengan ayah atau ibunya karena aku takut mereka akan marah padaku karena telah melukai anaknya.
Di dalam hati kecilku aku ingin sekali bermain dengan mereka lagi. Aku sering mengintip mereka berjalan menuju ke halaman masjid untuk bermain. Seiring berjalannya waktu aku mulai sering keluar rumah dan saat itulah kami bertemu. Aku yang sempat takut bertemu dengannya akhirnya memberanikan diri. Tak disangka ketika kami bertemu dia mengajakku untuk bermain bersama lagi. Aku yang mendengar hal itu pun terkejut karena kukira dia tidak mau lagi bermain denganku. Disisi lain aku sangat senang ketika mendengar hal itu. Setelah itu kami pun bermain bersama lagi.